MODEL PEMBELAJARAN SBK SENI LUKIS MODEL
Pengembangan CTL dalam pembelajaran seni rupa
Guru dapat mengembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan baru. Melakukan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua toipik. Kembangkan sifat keingin tahuan siswa dengan cara bertanya. Menciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok). Menghadirkan model sebagai contoh dalam pembelajaran. Melakukan refleksi pada akhir pertemuan. Melakukan penilaian otentik yang betul-betul menunjukkan kemampuan siswa.
Pengembangan CTL dalam embelajaran seni rupa tidak sulit, karena pembelajaran seni rupa selama ini telah membiasakan siswa untuk memecahkan masalah sendiri sehingga siswa telah terlatih mengkonstruksi pengalaman belajarnya. Yang dipertimbangkan oleh guru adalah keikutsertaan siswa dalam penentuan tema atau fokus pembelajaran. Siswa diajak berdiskusi untuk menentukan tema karya yang akan dibuat, bahan yang digunakan, prosedur pembuatan, dan sebagainya. Guru harus dapat menkondisikan siswa agar menyampaikan pertanyaan, memecahkan masalah melalui penyelidikan. Guru juga dapat mefasilitasi siswa dengan pengharagaan agar siswa lebih termotivasi.
Menurut Slavin motivasi merupakan proses internal yang mengaktifkan, memendu, dan memelihara perilaku seseorang secara terus menerus. Dalam pengertian ini intensitas dan arah motivasi dapat bervariasi. Apabila anak melihat sesuatu dan tertarik padanya, mendengar sesuatu yang baru dan mendengar suara secara seksama,menyentuh sesuatu yang tidak diharapkan dan menarik tangan dari padanya.
Contohnya guru dapat menceritakan tentang betapa menariknya membuat karya kerajinan keramin ataupun yang lain, semua itu merupakan pengalaman yang merangsang. Kemudian siswa dibawa dalam kelas yang menyenagkan dalam kelompoknya, salah satunya bentuk belajar sambil bermain. Apapun kualitasnya,stimulus yang unik akan menarik perhatian setiap siswa.
Dalam model pembelajaran CTL siswa dapat meraih sumber informasi dan imaginasi serta mendapatkan wahana apresiasi melalui pemanfaatan kelas sebagai tempat pajangan karya gambar, lukis, patung dan sebagaimya. Sedangkan evaluasi dilakukan dalam aspek proses dan hasil, aspek proses meliputi kesungguhan dalam belajar, partisipasi dan cataaan yang dibuat oleh siswa dan aspek hasil menekankan pada kualitas karya atau produk belajar sebagai implikasi dari proses belajar.
oleh : ifa-ratnasari







Komentar
Posting Komentar